Sabtu, 28 Februari 2015

NILAI RUPIAH TERUS TERPURUK.

Secara politis langkah yang dilakukan oleh AS untuk 
menghentikan pengaitan dolar dengan emas didorong oleh 
keinginan AS untuk memosisikan dolar standar moneter 
internasional hingga menguasai pasar moneter internasional
___________________________________________________________

Google
   Rezim jokowi dibuat klenger dengan nilai rupiah. Rupiah terus melemah belakangan. Bahkan sempat menembus angka Rp 13.000 per dolar Amerika. Akibatnya, Bank Indonesia selaku otoritas monoter yang bertanggung jawab menjaga kestabilan rupiah harus menggelontorkan dana triliyunan rupiah perhari agar menjaga rupiah lebih terpuruk.
Fluktualisasi nilai rupiah terhadap dolar yang sangat tajam ini, tak pelak menjadikan pelaku ekonomi yang berhubungan ekspor impor panas dingin. Bagi perusahan termasuk pemerintah yang memeliki utang ke pihak asing dengan kurs mengambang maka nilai utangnya semakin tinggi. Demikian pula dengan impor bahan baku produksi, barang modal dan konsumsi semakin tinggi. Sejumlah industri yang masih tergantung pada barang industry terseok-seok.
Ketidak pastian juga dialami oleh eksportir. Meski menangguk untung ditengah tengah melemahnya rupiah  karena nilai ekspor mereka naik, namun dalam jangka panjang fluktuasi nilai tukar rupah tetap saja tidak sehat bagi perkembangan usaha mereka. Ini karena ekspektasi bisnis sulit diprediksi dengan tepat. Ketika pendapat meraka naik tajam akibat pelemahan rupiah maka mereka akan terdorong meningkatkan investasi untuk meningkatkan skala produksi dengan harapan keuntungan akan semakin berlipat. Namun, ketika nilai tukar rupiah kembali menguak investasi mereka malah menghasilkan kerugian.

Persoalan ekonomi akibat tidak stabilnya nilai tukar yang bergerak fluktuatif telah berlangsung sejak sistem moneter yang diterapkan didunia ini adalah mata uang kertas yang tidak ditopang emas (Fiat Cureccy) dijadikan sebagai alat tukarnya. Pada era sebelumnya hingga hancurnya Bretton Woods Agreement, peradaban mata uang masih dikaitkan dengan emas. Pada perjanjian tersebut ditetapkan bahwa mata uang suatu Negara harus ditopang oleh cadangan dolar, sementara dolar sendiri yang di edarkan oleh AS juga ditopang oleh emas. Dengan demikian pertumbuhan supply dolar akan ditentukan seberapa besar cadangan AS. Namun, system dibubarkan AS. Pasalnya AS terus mencetak dolar untuk meningkatkan belanja fiskalnya.

Secara politis langkah yang dilakukan oleh AS untuk menghentikan pengaitan dolar dengan emas didorong oleh keinginan AS untuk memosisikan dolar standar moneter internasional hingga menguasai pasar moneter internasional. Akibat tidak ditopang oleh emas, mata uang dunia menjadi tidak stabil. Mata uang AS dan seluruh dunia terus bergolak. Fluktuasi tingkat nilai tukar menjadi sulit untuk diprediksi bahkan kadangkala bergerak secara ekstrim. Belum lagi inflasi terus membumbung akibat percetakan mata uang kian takterkendali, suatu keadaaan yang sangat meresahkan para pelaku ekonomi.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar