Minggu, 28 Desember 2014

SEBUAH KENANGAN


           
Dewi Ulva
Mata ini terus menerawang jauh kelangit malam yang begitu hampa jika tanpa jutaan bintang dan sebuah bulan, angin malam berhembus sangat kencang disebuah desa orang menyebutnya dengan desa gambiran, disalah satu plosok kabupaten Nganjuk, ku mulai memberanikan diri untuk merajut mimpi dan mengharap kesuksesan disuatu saat nanti. Senyumku mulai mengembang ketika kulihat sebuah kertas yang bertuliskan  kata “LULUS”. Tapi, senyum itu hanya sekejap. Fikiran ini kembali berputar dengan bayang kelam yang seakan menjadi mimpi buruk.


“ Sadarlah Ria, kamu ini siapa ? jangan berkhayal terlalu tinggi, bisa kerja disawah saja sudah beruntung kamu, bisa dapat uang dari pada nganggur. Jangan berharap bisa kuliah dan jadi orang besar, bisa hidup dan makan saja sudah untung”. Kata seorang paruh baya yang hingga kini terus terngiang di fikiranku, hatikupun dibuatnya gelisah dan ciut, takut untuk benar-benar beranjak dan berlari dari sebuah bayang kelam menuju jalan dengan cahaya terang.

“sedang apa kamu ndok,? Sudah malam ayo tidur, ini udaranya dingin lo, wes ndang mlebu!”  ucap ibuku sambil menepuk pundakku. Semua lamunanku pun akhirnya hilang ikut berlalu dengan kencangnya hembusan angina malam.
“ndak papa buk, Cuma gerah didalem”. Ucapku sambil mengusap air mata yang sempat meleleh dipipiku

Senin, 08 Desember 2014

PATIRTAAN JOLOTUNDO

giok/dupa

Batu batu tua itu masih bertahan dingin diam membisu.

Adakah mereka bisa  membisikan sesuatu ?

Sekelumit kisah dari masa lalu.

Yang di pendamkan beratus-ratus tahun.

 Akankah mereka bicara ?

Mencerahkan sisi gelap sejarah masa silam.

____________________________________________________
Jika kemarin saya ke pemandian air panas Brumbun. Paciran, Lamongan, yang terkenal mistis,angker dan banyak mahluk jenis cabe-cabean. Kali ini saya ketempat pemandian yang lebih tinggi mistis dan mitosnya.  Lokasi pemandian ada di desa Seloliman, Trawas. Mojokerto. jawa timur.  Disana ada sebuah Petirtaan Jolotundo, sebuah candi yang berarsitektur seperti kolam pemandian jaman saiki. Konon katanya tempat tersebut merupakan pemandian para raja-raja dan  keluarga  kerajaan mojopahit jaman dulu. Kereen kan ? he.he.he…

Selasa, 02 Desember 2014

KELILING PULAU GARAM DENGAN DOMPET "Pas-pasan".

Secara garis besar, Madura memiliki dua jalur : jalur utara dan jalur selatan. Masing-masing memiliki tipikal yang berbeda. Jalur utara lebih sempit dan jalannya lebih rusak dan amburadul. Kebanyakan kendaraan luar kota memilih jalur selatan yag lebih ramai karena terhubung langsung dengan jembatan tol suramadu dan kota-kota di Madura.  Konon katanya jalur utara sama bahayanya dengan jalur Pantura di jawa_ banyak blater, prampok, dan preman. Walaupun demikian kami tetap memilih jalur utara soalnya lebih dekat dengan pantai Slopeng dan lebih banyak menawarkan pemandangan yang beragam ketimbang jalur selatan yang gersang. Sepanjang perjalanan kita akan disugahi dengan berbagai macam pemandangan yang eksotis. Kita bisa mampir dikampoeng arab atau bisa foto-foto di atas bukit kapur berlubang di sepanjang Sampang. Jalur utara Madura juga menyediakan pasar dan tempat jual-beli  ole-ole khas Madura.

Bukit Kapur

Saya dan temanku suwardono, start perjalanan dari Kec, Kamal. Kab. Bangkalan salah satu kabupaten di Madura yang berbatasan dengan Surabaya. Walaupun jalur utara Madura terkenal ganas, kami tetap melewatinya demi menghemat bensin yang pas-pasan dan mengejar senja di pantai Slopeng. Sebenarnya ada trik tersendiri biar tak di bajak  oleh preman jalur utara. Triknya mudah saja, jika di siang hari jangan pernah matikan lampu kendaraan anda dan jika di malam hari nyala-matikan lampu kendaraan anda setiap melewati perbatasan desa. Nyala-matikan lampu kendaraan itu adalah sebagai penanda bagi para pembajak agar tidak merampok kendaraan asli orang sana.